40 Hari, Beda Rasa!

Sangat kontras dengan 40 hari pertama. Selama liburan semester satu, rasa balik ke pondok lebih kuat. Tidak sabar ingin balik ke pondok. Entahlah apa daya tariknya pondok?

Banyak orang tua yang khawatir ketika anaknya lulus SD. Khawatir anaknya tidak bisa masuk ke sekolah favoritnya, sekolah negeri salah satunya. Ditambah lagi, sistem zonasi yang diterapkan menghalangi orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri favorit. Saya selaku orang tua tidak pernah khawatir dengan hal itu. Bahkan, pilihan anak saya pertama adalah sekolah tahfidz yang lulusnya hanya memiliki ijazah paket B, tapi targetnya hafal Qur’an 30 juz. Saat pengumuman, dia tidak diterima. Plan B pun dieksekusi. Pilihan jatuh ke sekolah sambil mondok atau mondok sambil sekolah,┬áDarul Madinah┬áKota Madiun. Pendaftaran jalur indent, Alhamdulillah diterima.

Dia bercerita, 40 hari pertama adalah hari terberat karena penyesuaian dengan lingkungan pondok. Kebiasaan di rumah harus diubah drastis. Kebiasaan di pondok yang sudah terjadwal rapi harus dilaksanakan dan dipatuhi. Nangis? Pasti! Malah kata anak saya, 40 hari pertama, gak nangis gak afdhol. Ritual nangis adalah ritual wajib di 40 hari pertama, begitulah kata ukhti (sebutan kakak pendamping dari MA).

Semester satu meninggalkan segala macam kenangan yang tidak bisa dia lupakan. 1001 satu cerita dia tuturkan seolah tidak pernah habis. Suka dan duka di pondok. Hari ini adalah 40 hari kedua setelah libur. Sangat kontras dengan 40 hari pertama. Selama liburan semester satu, rasa balik ke pondok lebih kuat. Tidak sabar ingin balik ke pondok. Entahlah apa daya tariknya pondok? Saya tidak pernah pasang target untuk akademis, tetapi hafalan adalah harga mati yang tidak boleh ditawar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *