Di Balik Sertfikat

Saya ingin mengatakan bahwa kompetensi lebih penting daripada selembar sertifikat.

Webinar dan pelatihan daring sangat banyak selama pandemi. Pasti bersertifikat. Webinar tanpa alokasi jam. Pelatihan dengan alokasi jam. Setiap webinar atau pelatihan pasti memiliki tujuan atau target tertentu. Dengan kata lain, ketika peserta webinar atau pelatihan mendapatkan sertifikat, dapat dikatakan bahwa peserta itu telah paham dan kompeten dalam pelatihan tersebut. Misalnya, peserta mendapatkan sertifikat pelatihan modul, maka peserta itu kompeten untuk menulis modul. Singkatnya, sertifikat tanda kompeten.

Pemburu sertifikat hendaknya merenungkan kembali sertifikat-sertifikat yang didapat. Jangan-jangan kertas sertifikat tidak menunjukkan kompetensi. Betapa memalukan jika berlembar-lembar sertifikat yang didapat, tetapi kompetensi nol. Sebagaimana yang dikatakan Rocky Gerung, “Ijazah itu bukti seseorang pernah sekolah, bukan pernah berpikir”. Bila diubah redaksi menjadi, “Sertifikat itu bukti seseorang pernah ikut pelatihan, bukan pernah berpikir”.

Saya ingin mengatakan bahwa kompetensi lebih penting daripada selembar sertifikat. Kompetensi perlu diasah sesuai dengan kebutuhan. Tidak terikat waktu dan tempat. Ketika seseorang telah berkompeten, sertifikat akan mengikutinya. Bukankah lebih baik, lulusan S-1 tapi berpikir seperti profesor, daripada sebaliknya.

One thought on “Di Balik Sertfikat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *