Duet Maut

Konseptor dan Eksekutor itulah Duet Maut! Konseptor tahu apa yang akan dilakukan dan Eksekutor mampu menterjemahkan dengan apik apa yang dinginkan Konseptor.

Perkenalkan Bapak saya, namanya M. Wagi. Lulusan SD, suka matematika dan pernah menjadi guru matematika. Saat saya sekolah SD, teman-teman saya berkumpul di rumah, sinau bareng, gurunya adalah Bapak saya. Tidak ada perlakuan khusus ke anaknya saat ngelesi. Semua sama, kerjakan ya kerjakan semua, dimarahi ya dimarahi semua. Itulah Bapak saya.

Setelah resign dari guru di Gresik, Bapak saya pulang ke Jombang, dari guru menjadi petani, sampai sekarang. Bapak saya bukan petani biasa, beliau memiliki laboratorium sederhana di rumah. Laboratorium tempat membuat pupuk organik, seperti Verticilium, Beauvira Bassiana, Pias Trichogamma. Saya sebut Bapak saya sebagai praktisi pertanian organik. Praktisi karena belajar melalui pelatihan-pelatihan yang diikuti, bukan kuliah pertanian di kampus.

Once upon time, Bapak saya diundang ke Seminar Pertanian di Universitas Pembangunan Nasional “UPN” Surabaya, dulu masih Perguruan Tinggi Swasta, sekarang menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Itu pertama kali, Bapak saya menjadi narasumber seminar dalam skala nasional. Peserta tidak main-main, mahasiswa pertanian, dosen, dan orang-orang yang bekerja di bidang pertanian. Bapak saya sebagai narasumber utama dalam seminar besar sebelum ke seminar per tema.

Duet maut pun dimulai. Bapak saya yang hanya lulusan SD tidak bisa buat materi dalam bentuk buku dan tayangan slide (powerpoint). Pegang komputer saja tidak pernah, apalagi mengetik. Mending pegang cangkul daripada pegang papan ketik. Begitulah kira-kira isi hati bapak saya. Bapak saya tahu apa yang harus disampaikan, di depan para akademisipun tidak masalah. Prinsip Bapak saya, yang diajari oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya waktu itu, pesannya adalah, “Pak Wagi, kalau mengisi seminar, anggap saja peserta adalah tiang (patokan), Pak Wagi sampaikan saja pengalaman jadi pertanian,

Walaupun Bapak saya tidak bisa buat makalah dan tayangan slide, tapi beliau sudah punya konsep tentang apa yang mau disampaikan. Konsep beliau tulis di kertas dengan tulisan yang khas, seperti tulisan saya waktu buat video di Youtube, kata Kang Iksan Taufik Hidayanto tulisannya tidak jelas alias tidak bisa di baca. Bagi saya konsep yang dibuat Bapak saya sudah sangat jelas bagi saya untuk mengeksekusi menjadi makalah dan tayangan presentasi.

Bagian saya adalah menterjemahkan konsep tulisan tangan di kertas itu ke makalah dan tayangan presentasi. Walaupun saya tidak paham dengan materi yang akan dijelaskan Bapak saya di seminar karena saya paling tidak suka dengan biologi. Kuliah saja dapat C untuk mata kuliah Biologi umum dan itupun tidak mengulang, yang penting lulus. Saya masih punya senjata andalan, Mbah Google. Mbah Google dan beberapa buku rujukan yang diberikan Bapak saya, saya selesai membuat makalah dan tayangan presentasi. Makalah dan tayangan presentasi saya berikan ke Bapak saya dan beliau sudah menyetujui. Makalah dan tayangan presentasi sudah siap dibagikan dan ditayangkan dalam seminar. Saya dan Bapak saya berangkat ke UPN Surabaya. Saya sebagai sopir sekaligus pendamping dan operator seminar untuk Bapak saya. Singkat cerita, Bapak saya sukses mengisi seminar di UPN Surabaya.

Konseptor dan Eksekutor itulah Duet Maut! Konseptor tahu apa yang akan dilakukan dan Eksekutor mampu menterjemahkan dengan apik apa yang dinginkan Konseptor. Interaksi aktif antara Konseptor dan Eksekutor akan menghasilkan suatu program atau kegiatan yang optimal. Tidak peduli, Konseptor itu lulusan SD atau Doktor, bahkan Profesor sekalipun, asal dia tahu apa yang harus dibuat/dikonsep, maka itulah Konseptor.

One thought on “Duet Maut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *