Guru dan Karir

Pertimbangan-pertimbangan itulah, saya harapkan akan mengubah jalan pikiran pendidik, bahwa karir juga penting. Karir ditandai dengan pangkat dan golongan yang diraihnya.

Rabu (25/11/2020) bertepatan dengan Hari Guru Nasional (HGN), saya diberi kesempatan utk berbagi dengan teman-teman pendidik dan peserta didik SMA Negeri 1 Kota Mojokerto. Berbagi pada acara Workshop Peningkatan Mutu: Optimalisasi Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pada Masa Pandemi. Saya kebagian menyampaikan tema tentang Karya Tulis Ilmiah. Awalnya saya bingung harus menyampaikan apa karena tema terlalu luas dan waktu yang terbatas. Akhirnya, saya menemukan materi yang menarik yaitu Karya Tulis Ilmiah Dalam Perspektif Buku 4. Bukan tanpa alasan, saya memiliki beberapa pertimbangan mengambil materi itu.

Pertimbangan pertama, karya tulis ilmiah, dalam bahasa buku 4 tentang Pedoman Kegiatan Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan dan Angka Kreditnya disebut dengan istilah publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah memiliki peranan yang sangat penting dalam kenaikan pangkat. Berapapun nilai angka kredit akumulatif, jika nilai dari unsur publikasi ilmiah tidak penuhi, maka tidak akan bisa naik pangkat. Inilah peran penting dari publikasi ilmiah.

Pertimbangan kedua, publikasi ilmiah memiliki banyak jenis. Anehnya, banyak pendidik yang hanya tahu dan membuat laporan penelitian tindakan kelas saja. Hal ini berguna untuk membuka mindset pendidik bahwa publikasi ilmiah memiliki banyak jenis. Harapannya, jika sudah mengetahui jenis-jenis publikasi ilmiah, pendidik diharapakan membuat/menyusun sesuai dengan kemampuan. Pendidik yang suka membuat puisi atau cerpen, optimalkan dikedua karya itu.

Pertimbangan ketiga, banyak pendidik yang kesulitan mengawali membuat karya publikasi ilmiah. Ini menjadi kendala tersendiri, terutama bagi guru-guru senior yang sudah memiliki masa kerja di atas 20 tahun. Pendidik senior merasa kesulitan karena terbiasa dengan prosedur penilaian angka kredit lama. Keberadaan buku 4 sebenarnya memperjelas sistematika dan cara membuat publikasi ilmiah. Justru ini menurut saya semakin dimudahkan.

Pertimbangan keempat, pendidik malas membaca buku 4. Buku 4 sebagai buku kunci untuk kenaikan angka kredit menjadi penting untuk dibaca. Jika guru malas membaca buku 4, maka akibatnya tidak punya strategi untuk naik pangkat. Hal ini pernah saya alami, ketika saya naik ke III-a dari CPNS. Waktu itu, saya memiliki satu PTK dan 13 artikel yang dimuat di majalah tingkat propinsi. Semua tidak dinilai karena (mungkin) penilai angka kredit merasa belum perlu mendapatkan angka kredit dari unsur publikasi ilmiah. Ini yang saya namakan dengan salah strategi. Akhirnya, saya memahami buku 4 dan memiliki strategi dalam naik pangkat. Naik pangkat sampai III-d, saya belum pernah membuat PTK.

Pertimbangan-pertimbangan itulah, saya harapkan akan mengubah jalan pikiran pendidik, bahwa karir juga penting. Karir ditandai dengan pangkat dan golongan yang diraihnya. Semakin cepat naik pangkat, maka dianggap semakin kompeten sebagai seorang pendidik. Laksanakan tugas sebagai guru dengan baik serta tugas tambahannya, tetapi jangan lupakan karir sebagai PNS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *