Guru Idiot

Kalau Rancho adalah mahasiswa Idiots karena tidak mengikuti pakem kampus, maka saya adalah guru Idiots karena tidak ikut tantangan-tantangan itu.

Tidak pernah bosan bila menonton film ini untuk yang keempat kalinya. Sebagai guru dan pernah jadi selalu menikmati film 3 Idiots. Film yang bercerita tentang 3 orang mahasiswa yang kuliah di kampus terkenal di India. Jurusan terfavorit adalah teknik. Bahkan anak sang Profesor sendiri tidak lolos saringan alias tidak masuk. Film apakah itu? Yup, benar 3 Idiots.

Tiga orang sabahat, Farhan, Raju, dan Rancho. Singkat cerita, Farhan adalah mahasiswa yang dipaksa keluarganya untuk kuliah di teknik, padahal hobinya adalah fotografi. Raju, sang tulang punggung keluarganya yang hidup miskin harus berjuang untuk lulus dari universitas tersebut, walaupun akhirnya berhasil. Akhir cerita, Farhan berhasil menjadi fotografer gara-gara keisengan Rancho mengirim hasil jepretan Farhan ke fotografer terkenal dan farhan menjadi asistennya. Raju dalam tes wawancara berhasil.menaklukkan pewawancara dengan elegan dan dia diterima bekerja. Bagaimana dengan Rancho, inilah yang akan kita bahas.

Rancho di cerita adalah sebagai pengganti dari seseorang untuk sekolah. Dalam proses perkuliahan tidak memiliki beban sama sekali. Kecerdasannya membuat seisi kampus geger. Dosen yang mengajar textbook, mahasiswa yang melakukan perpeloncoan, Rancho mengubah habbit yang membosankan ini dengan caranya. Rancho menikmati setiap proses dalam perkuliahan sesekali “nakal” mengkritisi dosen yang berbasis buku teks.

Yang paling berkesan dari cerita ini adalah Rancho sekolah tetapi tidak mengharapkan ijazah, sehingga dia sangat menikmati setiap prosesnya. Tidak mengharapkan ijazah bukan berarti tidak cerdas. Setiap ujian, dapat ditaklukkan dengan mudah dan selalu di rangking 1. Bahkan, ballpoint sang profesor juga diwariskan kepada murid cerdas itu, Rancho. Bila penasaran dengan film 3 Idiots, cari saja di Youtube.

Pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini adalah sesuatu yang kita lakukan tanpa beban akan terasa nikmat. Melakukan karena perlu dan butuh. Saat Program Keahlian Ganda (KG) gelombang 1, sangat sepi peminat. Saya dengan sigap tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Waktu itu saya tidak berpikir bahwa nanti dapat sertifikat pendidik dan sertifikat kegiatan 1000 jam lebih karena pelaksanaan satu tahun. Juga tidak berpikir dapat uang saku dan uang TPP juga cair walaupun berapa jam mengajarnya. Saya ikut KG karena suka dan cari ilmu. Saya dulu berpikir, lumayan dapat ilmu gratis selama satu tahun.

Hari ini banyak sekali tantangan menulis yang diselenggarakan oleh perorangan atau lembaga dan animo teman-teman guru untuk ikut juga tinggi. Tantangan itu berupa satu hari satu tulisan. Ini tentu hal yang menggembirakan karena semangat guru menulis ternyata masih tinggi bila difasilitasi. Di sisi lain, ini merupakan keterpaksaan. Biasanya keterpaksaan akan menghasilkan hal yang kurang optimal. Menulis karena terpaksa bisa dilihat dari tulisannya. Saya tidak ingin menjudge dan mengecilkan hati teman-teman. Bisa jadi dari keterpaksaan akan berubah jadi kebiasaan. Benar! Bukankah lebih baik membiasakan diri dulu menulis di media sosial, di blog, di manapun.

Kalau ditanya, kenapa saya tidak ikut tantangan itu padahal saya bisa dengan mudah menulis? Saya tidak ingin menulis karena keterpaksaan, sebagaimana Rancho ketika kuliah. Saya lebih menikmati menulis sendiri tanpa beban. Tanpa dibebani deadline dan paksaan 1 hari 1 tulisan. Saya bisa nulis apa saja dan kapan saja. Pakai gawai cerdas oke! pakai laptop juga oke! Ada ide tulis saja dengan hati dan jari jempol. Kalau Rancho adalah mahasiswa Idiots karena tidak mengikuti pakem kampus, maka saya adalah guru Idiots karena tidak ikut tantangan-tantangan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *