Hasilnya Mondok di Darul Madinah

Kata orang, dunia dan akhirat harus seimbang. Saya setuju dengan Ustadz Oemar Mitha, utamakan akhirat dan seperlunya saja untuk dunia, karena dunia dan akhirat tidak bisa seimbang.

Ada kebiasaan yang tidak pernah saya tinggal sampai sekarang, mengasesmen anak saya sepulang sekolah. Dulu waktu SD, setiap menjemput, sembari baik motor, saya menanyakan bagaimana sekolah hari ini? Anak saya menjawab dengan bercerita kejadian-kejian yang dialami di sekolah. Banyak cerita selama waktu naik motor. Saya sebagai guru, itu adalah cara mengasesmen anak saya selama sekolah tanpa tahu bahwa anak saya sedang saya asesmen. Asesmen itu berfungsi kemajuan anak saya dan proses pembelajaran di sekolah. Menurut saya itu lebih valid daripada catatan tulisan di buku rapor.

Sekarang anak saya mondok di SMP – MA Darul Madinah Kota Madiun, saya tetap melakukan asesmen terhadap anak saya. Orang tua diberi waktu berkunjung ahad pertama, setiap bulan dan telepon 15 menit setiap Sabtu. Pasti ada cerita, ketika ketemu dan telepon. Itulah autentic asessment sebenarnya. Hasilnya?

Pertama, perubahan bacaan Quran. Semester 1 target bukan menghafal tetapi menstandarkan bacaan agar ketika menghafal, bacaan sudah benar. Kata anak saya bacaan yang di dapat di SD, kurang sempurna dan Ustadzah halaqah anti ngantuk dan teliti. Kebetulan anak saya halaqah dengan Ustadzah yang sangat teliti sehingga perubahan sangat drastis, menurut saya sempurna. Buktinya, saat muraja’ah di mobil, saya tidak percaya kalau lagu bacaan anak saya seperti itu. Sambil menahan air mata, saya terus menyetir mobil sembari mendengarkan bacaannya.

Kedua, hasil UAT (Ujian Akhir Tahfidz). Salah satu ujian akhir saat semester 1 adalah ujian hafalan Juz ‘Amma dengan standar yang telah ditentukan Pondok Darul Madinah. Alhamdulillah, anak saya lulus walaupun kloter terakhir.

Ketiga, pakai cadar. Entah dari siapa atau siapa yang mengajak memakai cadar. Saya hanya yakin dan saya selalu mendoakan istiqamah dalam memakai cadar. Saya yakin cadar akan membawa kebaikan bagi pemakai dan bagi yang melihatnya.

Keempat, setiap saya dan Umminya Niswah bilang wow hebat, keren, dan kata-kata kekaguman, maka anak saya selalu mengingatkan, kata-kata itu harus diganti kalimat thayyibah, misalnya Mashaa Allah, Astaghfirullah.

Kelima, saat Mbak Kungnya mengajari Nahwu Sharaf, Mbah Kungnya meletakkan Quran di bawah, ditegur sama anak saya, bahwa kurang elok meletakkan Quran di bawah.

Keenam, saat penjengukan, selalu saya ajak jalan sambil makan. Nah, saat liburan, saya tawari makan kesukaannya ABC dan seterusnya. Apa jawaban anak saya? Ndak boleh makan enak terus, karena nanti kalau mau balik ke pondok berat.

Ketujuh, terakhir. Anak saya punya keinginan melanjutkan ke MA Darul Madinah. Dia punya keinginan untuk mengabdi dan mendampingi adik kelasnya kelak. Saya hanya bilang mengabdilah, Nak! karena engkau sedang menanam.

Itulah sekelumit hasil didikan Pondok Darul Madinah Kota Madiun. Maaf, saya tidak menceritakan kegiatan di sekolah. Biasanya ngobrol 2 jam dengan anak saya dan mendengarkan ceritanya, hanya 15 menit saya tanya tentang sekolahnya. Kata orang, dunia dan akhirat harus seimbang. Saya setuju dengan Ustadz Oemar Mitha, utamakan akhirat dan seperlunya saja untuk dunia, karena dunia dan akhirat tidak bisa seimbang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *