Ideologi Penulis (bagian-1)

Buku-buku yang diilhami dari ideologi akan selalu berpengaruh sepanjang sejarah dan menjadi rujukan mendasar bagi pengikut ideologi tersebut. Ideologi adalah ruh dari tulisan. Tulisan tanpa ideologi seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Dengan kata lain, tulisan itu akan menjadi sia-sia.

Hal yang paling mendasar yang dimiliki oleh penulis adalah sudut pandang yang khas terhadap apa yang ditulis. Adalah sebuah keniscayaan, bahwa setiap penulis pasti memiliki sudut pandang yang khas. Apapun sudut pandang yang dimiliki. Sudut pandang inilah akan tercermin dari apa yang ditulis. Tere Liye pernah mengatakan bahwa realitas dan fakta boleh sama, tetapi yang membedakan adalah sudut pandang terhadap suatu realitas dan fakta. Sudut pandang yang khas inilah yang dinamakan dengan ideologi.

Ideologi bukanlah istilah yang perlu ditakuti. Justru, menurut saya harus ditempatkan sesuai dengan terminologinya. Secara sederhana, saya mengartikan ideologi sebagai pemikiran mendasar yang dapat melahirkan aturan-aturan tertentu. An-Nabhani membagi ideologi menjadi tiga besar, yaitu Islam (integrasi agama dan kehidupan), Kapitalisme (pemisahan agama dan kehidupan), dan Sosialisme (tidak ada agama dalam kehidupan). Samuel Huntington, menyebut ideologi sebagai peradaban. Lebih luas lagi, Huntington menyebutkan berbagai jenis peradaban di dunia, seperti peradaban China, Islam, Barat, Afrika, dan sebagainya.

Ideologi memiliki peran yang sangat sentral bagi seorang penulis. Ideologi berfungsi sebagai pijakan dasar dalam menilai sebuah fakta. Tanpa ideologi, seorang penulis tidak akan memiliki kekhasan dalam tulisannya. Hanya sebuah tulisan linier saja. Sayyid Qutb menempatkan ideologi Islam dalam buku Ma’alim fi ath-Thariq (Petunjuk Jalan yang Menggetarkan Iman). Buku ini yang menyebabkan beliau meninggal sebagai syahid di tiang gantungan penguasa yang kontra terhadap idenya. Karl Marx menempatkan ideologi sosialisme dalam buku Das Kapital. Adam Smith menempatkan ideologi kapitalisme dalam buku The Wealth of Nations.  

Buku-buku yang diilhami dari ideologi akan selalu berpengaruh sepanjang sejarah dan menjadi rujukan mendasar bagi pengikut ideologi tersebut. Ideologi adalah ruh dari tulisan. Tulisan tanpa ideologi seperti jasad yang tidak memiliki ruh. Dengan kata lain, tulisan itu akan menjadi sia-sia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *