Ikut Pelatihan Menulis itu Sia-Sia

Pelatihan menulis itu memberikan kerangka bagaimana cara menulis dan bagaimana memotivasi menulis.

Dulu, entah berapa tahun yang lalu, saya suka mengikuti diklat jurnalistik. Hampir lima kali saya mengikuti diklat jurnalistik hanya untuk memenuhi keinginan untuk bisa menulis. Alhasil, hanya mendapatkan teori dan sedikit praktik ujicoba saja. Apakah sudah bisa menulis pasca pelatihan? Belum. Itulah yang saya ingin katakan bahwa pelatihan-pelatihan kepenulisan adalah hal yang sia-sia alias tidak ada hasilnya apa-apa.

Sebagaimana pelatihan jurnalistik, pelatihan yang diadakan oleh Pusat Pengembangan Profesi Guru (P3G) Jawa Timur juga sia-sia. Tidak ada menghasilkan pengaruh apa-apa bagi peserta pelatihan. Buktinya 80% peserta tidak bisa memenuhi target yang ditentukan di KelasĀ #nulisPUISIbareng. Siapapun narasumbernya akan menghasilkan output peserta yang sama dan tetap saja tidak bisa menulis apalagi membuat buku.

Kesia-siaan itu akan sirna jika peserta tidak hanya mengandalkan pelatihan-pelatihan saja. Peserta harus terus berlatih menulis, menulis, dan menulis serta tidak lupa membaca. Fungsi latihan menulis adalah untuk mengasah naluri untuk peka terhadap ide atau kejadian di sekeliling peserta. Membaca berfungsi menambah diksi (pilihan kata) agar tulisan tidak monoton.

Pelatihan hanyalah wadah saja. Tanpa peran aktif dari peserta, maka pelatihan sehebat apapun tidak akan efektif, bahkan sia-sia. Pelatihan itu seperti maps (peta), yaitu memberikan jalan dan rute ke mana harus pergi. Pelatihan menulis itu memberikan kerangka bagaimana cara menulis dan bagaimana memotivasi menulis. Selanjutnya adalah kembali ke peserta. Tanpa tindak lanjut dari peserta sendiri, maka semangat dan kerangka itu tidak akan berarti apa-apa. Tips agar tetap semangat menulis adalah menulis, menulis, dan menulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *