Ketika Passion Ditantang (bagian-2)

Apapun wadahnya, ketika passion terpanggil, maka semua akan menjadi sesuatu harus dinikmati, bukan menjadi beban. Mengapa harus kuatir dengan pendengar atau peserta yang barangkali lebih tinggi tingkat pendidikannya? Karena ada sesuatu yang dimiliki Bapak saya, tetapi tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu pertanian organik ala petani asli.

Bapak saya adalah lulusan SD. Dulu namanya SD Rakyat. Bapak saya pernah menjadi guru, walaupun lulusan SD. Bapak saya pintar dalam bidang matematika dan Bahasa Arab. Saya tahu karena setiap ada PR atau belajar kelompok, Bapak saya dengan sigap mengajari saya dan teman-teman saya PR matematika.

Bapak saya juga menekuni pembuatan obat-obat organik untuk pertanian. Ilmunya didapat dari pelatihan-pelatihan yang diikuti. Bukan karena mendapatkan di bangku kuliah. Untuk lebih menekuti ilmu tentang obat-obat organik pertanian, Bapak saya membuat laborarium mini di rumah. Laboratorium mini telah menjadi rujukan mahasiswa magang maupun kunjungan lapang, misalnya dari Universitas Negeri Jember, Universitas Brawijaya, dan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Surabaya.

Bapak saya terbiasa mengisi forum-forum pelatihan untuk petani atau kelompok tani. Baik kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pertanian maupun oleh kelompok tani sendiri. Forum-forum seperti sudah biasa bagi Bapak saya karena biasanya forum seperti ini tidak terlalu formal. Jadi, Bapak saya tidak terikat oleh aturan-aturan resmi seperti sambutan atau moderator.

Suatu hari, Bapak saya diundang oleh salah satu kampus di Surabaya untuk menjadi Narasumber Utama dalam suatu seminar. Tema yang diangkat dalam seminar itu adalah tentang pertanian organik. Bapak saya sebagai praktisi (orang yang melakukan). Pesertanya adalah mahasiswa, dosen, petugas penyuluh lapang (pertanian), kedinasan. Tentu dengan suasana formal, seperti membuat makalah dan slide powerpoint. Bapak saya tidak mengenal apa itu makalah dan slide. Tetapi hal itu tidak menjadi Bapak saya mundur dari tantangan itu. Saya memainkan peran sebagai eksekutor dan Bapak saya sebagai konseptor. Alhasil semua persiapan sudah 100% dan alhamdulillah dengan penyampaian ala petani apa adanya, peserta justru lebih menikmati apa yang disampaikan oleh Bapak saya daripada narasumber lainnya yang cenderung akademis.

Apapun wadahnya, ketika passion terpanggil, maka semua akan menjadi sesuatu harus dinikmati, bukan menjadi beban. Mengapa harus kuatir dengan pendengar atau peserta yang barangkali lebih tinggi tingkat pendidikannya? Karena ada sesuatu yang dimiliki Bapak saya, tetapi tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu pertanian organik ala petani asli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *