Kontra Anak dan Bapak

Beda ayah, beda anak. Semua buku yang dia beli adalah buku yang tidak saya sukai. Genre anak saya, cerita fiksi, sedangkan genre saya, buku nonfiksi alias buku-buku serius, seperti jurnal, metode penelitian, dan sejenisnya.

Ada hal mengejutkan dari penerimaan rapor anak saya. Anak saya sekolah dan mondok di SMP Darul Madinah Kota Madiun. Mata pelajaran Bahasa Indonesia, untuk nilai pengetahuan mendapatkan predikat C, tetapi nilai keterampilannya sempurna, A. Usut punya usut ternyata dia membuat cerita fiksi, saya lupa judulnya. Cerita itu dinilai oleh Ustadzah dengan nilai 100.

Apakah saya kecewa? tentu tidak! Saya berkeyakinan anak memiliki talenta yang berbeda. Anak saya tidak suka matematika, tetapi suka IPA. Anak saya hobi menggambar, bercerita, membaca, dan menulis. Buku bacaan kesukaan waktu masih SD adalah buku-buku karya Tere Liye yang tentu tidak semua. Karya Tere Liye ada yang tidak cocok dengan dunia anak-anak. Di samping itu, buku fiksi dilahap habis sebelum sampai rumah. Itulah kenapa dia mendapatkan nilai 100 untuk keterampilan.

Beda ayah, beda anak. Semua buku yang dia beli adalah buku yang tidak saya sukai. Genre anak saya, cerita fiksi, sedangkan genre saya, buku nonfiksi alias buku-buku serius, seperti jurnal, metode penelitian, dan sejenisnya. Setelah mondok, buku-buku kesukaan anak saya, tertata rapi di rak buku kamarnya. Walaupun begitu, saya dan anak saya, sama-sama suka baca dan nulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *