Literasi Siswa

Menurut saya, program menulis untuk peserta didik masih terlalu formal, misalnya harus dalam bentuk pelatihan. Padahal banyak strategi program yang dapat dikembangkan. Bahkan, sampai menjadi buku.

Menulis buku identik dengan pendidik, bukan peserta didik. Makna literasi masih diartikan sebagai membaca, bukan menulis. Sekolah masih merasa kesulitan ketika menggerakan peserta didik di sekolah untuk menulis. Apalagi menulis menjadi buku. (Mungkin) di beberapa sekolah bisa dijalankan, tetapi masih menemui kendala. Menurut saya, program menulis untuk peserta didik masih terlalu formal, misalnya harus dalam bentuk pelatihan. Padahal banyak strategi program yang dapat dikembangkan. Bahkan, sampai menjadi buku.

Integrasi dengan mata pelajaran. Menulis memang identik dengan mata pelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia. Guru bahasa Indonesia dengan mudah mengumpulkan tugas peserta didik dan layak menjadi buku. Tentu dengan sedikit sentuhan dari pendidiknya agar layak baca dan terbit. Tetapi tidak menutup kemungkinan dari mata pelajaran lain, IPA misalnya. Tugas peserta didik tentang laporan eksperimen (percobaan) atau proyek sederhana dapat ditulis dengan sistematika tertentu, bisa menjadi buku yang layak terbit.

Intergrasi dengan kegiatan study tour. Buku berjudul Everlasting Memories in Bali adalah salah satu karya peserta didik dari SMAN 1 Kota Mojokerto. Buku ini bercerita tentang perjalanan study tour peserta didik. Pendidik memberikan tugas peserta didik berubah laporan dalam bentuk cerita bebas. Peserta didik memilih beberapa naskah yang layak untuk diterbit. Akhirnya jadi buku.

Integrasikan dengan program purnawidya. Saya sempat memberikan usulan program kepada teman-teman wakil kepala sekolah dan kepala sekolah yang pernah diskusi dengan saya. Acara purnawidya biasanya, peserta didik mendapatkan buku kenangan yang berisi foto, biodata, kesan, dan pesan. Buku kenangan bisa diganti dengan buku cerita. Peserta didik diberi tugas untuk membuat cerita tentang pengalaman belajar selama sekolah. Semua cerita nanti dibukukan. Bila terlalu tebal, dapat dibagi menjadi beberapa bagian. Menurut hemat saya, justru itu lebih bermanfaat daripada hanya sebatas buku kenangan saja.

Sebenarnya masih banyak lagi program yang dapat digagas. Jika teman-teman ada program menarik dan inovatif, bisa ditulis di kolom komentar di bawah. Bisa jadi program teman-teman akan diduplikasi oleh teman-teman lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *