Maaf, Saya Tidak Bertarif

Inilah alasan saya kenapa saya tidak mau memasang tarif jika saya diminta berbagi ilmu yang saya punya. Kenikmatan berbagi itu melebihi segalanya. Semoga kenikmatan ini tidak berubah menjadi tarif dan hanya menyenangkan orang lain, bukan karena passion.

Selasa, 14 April 2020, saya berbagi pengetahuan tentang pembelajaran dari di SMK Islam Baburrahman Mojosari Mojokerto. In House Training Pembelajaran Daring begitulah namanya. IHT ini untuk membekali dan memantabkan konsep dan praktik pembelajaran daring bagi guru dan tim IT SMK Islam Baburrahman Mojosari Mojokerto. Pembelajaran daring di era pandemi ini akan dijadikan titik awal untuk program pembelajaran daring berikut.

Dua hari sebelumnya, Mas Masohibul Abror, Kepala SMK Islam Baburahman menghubungi saya untuk koordinasi masalah pelaksanaan IHT Pembelajaran Daring tersebut. Mas Abror, begitu saya memanggilnya karena beliau adalah teman saya waktu mengikuti VCT 14.5 dan usianya sama dengan saya, menjelaskan aplikasi apa saja yang nanti akan digunakan dalam pembelajaran daring, termasuk target dari IHT ini. Tidak ketinggalan, Mas Abror bertanya tentang fee untuk saya. Saya tetap menjawab dengan konsisten dengan jawaban-jawaban sebelumnya, “maaf, saya tidak bertarif,”.

Berbagi memang tidak ternilai. Diberi kesempatan untuk berbagi merupakan hal sangat membanggakan bagi saya. Tidak semua orang punya kesempatan yang sama seperti ini. Ketika passion bertemu dengan panggung akan menjadi sesuatu yang sangat nikmat, seperti musisi bernyanyi, sulap bersulap, guru mengajar. Sungguh, indah.

Saya teringat dengan podcast Deddy Corbuzier saat mewawancari Aziz Gagap.

Apa yang lebih nikmat dari itu (keluar jadi artis  menjadi petani dan mengurus pondok),” tanya Deddy.

Aziz Gagap tidak menanggapi pertanyaan Deddy, malah balik tanya, “Saat Deddy bermain sulap dari hati yang paling enak, ada kenikmatan bermain sulap?,” tanya Aziz Gagap ke Deddy Corbuzier.

Ada, ada dong,” jawab Deddy singkat.

Walaupun itu tidak dibayar?,” tanya Aziz Gagap lagi.

Ada (kenikmatan walaupun tidak dibayar),” jawab Deddy Corbuzier.

Itulah nikmat. Kalau bicara ikhlas, jangan bicara ikhlas karena ikhlas itu tidak ada nilainya,” tegas Aziz Gagap.

Iyaaa… iyaaa…iyaa,” gumam Deddy Corbuzier paham dengan maksud Aziz Gagap.

Menurut saya yang menarik adalah penjelasan Deddy Corbuzier selanjutnya.

Salah satu alasan kenapa gua (saya) berhenti main sulap adalah ketika gua bermain sulap dari kecil lalu gua kerja di cafe-cafe, gua seneng karena ketika main sulap gua lihat yokap gua, tetangga gua, keluarga gua. Begitu itu sudah menjadi komersil yang gua cari saat main sulap bukan karena menyenangkan gua, tapi menyenangkan orang lain. Terus gua main, loe mau bayar gua berapa? Akhir seni sulapnya jadi hilang. Kenikmatannya (main sulap) jadi hilang. Berubah jadi berapa duit yang gua dapet nih. Bukan kekaguman bahwa penonton suka pada gua. Itulah kenapa gua berhenti main sulap karena sebagai seniman gua telah mengkhianati seni gua sendiri.

Inilah alasan saya kenapa saya tidak mau memasang tarif jika saya diminta berbagi ilmu yang saya punya. Kenikmatan berbagi itu melebihi segalanya. Semoga kenikmatan ini tidak berubah menjadi tarif dan hanya menyenangkan orang lain, bukan karena passion. Sebagaimana Deddy Corbuzier, jika bayaran yang dicari maka saya telah mengkhianati seni (ilmu) yang saya tekuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *