Mahalnya Habbit

Pembiasaan yang jauh lebih penting adalah waktu beribadah, halaqah, dan hafalan.

Saya tidakĀ memaksakan target apapun ke anak saya ketika mondok. Target hafalan atau target nilai akademis. Bahkan saya tidak merasa anak gagal jika anak saya mendapatkan nilai di bawah KKM atau hafalan tidak terpenuhi. Bahkan dulu ada aturan di pondoknya, jika pada saat kelas VIII belum memenuhi juz hafalan tertentu, maka tidak naik kelas. Itu tidak masalah. Saya memiliki tujuan tertentu ketika anak saya mondok.

Bagi anak yang berusia SMP, masa bersenang-senang dengan temannya. Pondok memiliki program terstruktur untuk menciptakan kebiasaan (habbit). Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mencuci baju, mengatur uang, belajar mandiri, dan semua pembiasaan lainnya. Pembiasaan inilah yang sebenarnya saya cari di pondok.

Pembiasaan yang jauh lebih penting adalah waktu beribadah, halaqah, dan hafalan. Saya selalu mengingatkan anak saya untuk selalu mengikuti pembiasaan ini baik. Hal inilah yang akan membentuk diri ketika sudah keluar dari pondok atau pindah ke pondok lain ketika SMA.

Perubahan bacaan al Quran secara drastis dan tartil, berpakaian sampai bercadar, ucapan-ucapan sederhana bermakna, itu sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Saya sangat paham kemampuan anak saya dalam hal menghafal dan belajar di sekolah. Tetapi ada hal yang tidak bisa di tawar, pembiasaan baik di pondok harus diikuti dengan baik. Adalah hal lain ketika berbicara tentang jumlah hafalan dan nilai. Jika sudah berusaha maksimal, jumlah hafalan tidak naik signifikan atau nilai pelajaran biasa saja, itu sudah nilai lebih bagi saya.

Boleh setuju boleh tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *