Menjadi Orang Lain

Jadikan orang lain sebagai motivasi eksternal. Motivasi tambahan, bukan motivasi utama. Bukankah bersaing dalam hal kebaikan adalah sebuah anjuran agama?

Kebiasaan jelek saya yang selalu muncul ketika melihat beranda media sosial teman, saya selalu berpikir, teman saya kok bisa yang seperti itu? Berbagai macam isi beranda, mulai dari prestasi,  buku yang ditulis, prestasi yang pernah diraih, harta yang dipunya, dan segala macam pernak pernik kehidupan manusia (baca: teman saya di media sosial). Hati saya berguman, “Saya ingin seperti mereka”.

Ketika melihat teman saya mengunggah buku baru, saya jadi penulis buku. Ketika melihat teman saya mengunggah sertifikat kegiatan, saya ingin mengikuti pelatihan itu. Ketika melihat teman saya mem-posting prestasi tertentu, saya ingin ikut lomba dan menang seperti teman saya. Ketika teman saya “memamerkan” kekayaannya, saya ingin punya seperti yang teman saya punya. Intinya, apa yang dimiliki teman saya, harus punya.

Adagium yang sering kita dengar, “rumput tetangga lebih hijau,” benar adanya. Seolah, ketika memandang orang lain, lebih bahagia, lebih berprestasi, lebih banyak karyanya, lebih pintar, dan lebih-lebih yang lainnya. Kita jadi kelihatan tidak bahagia, tidak berprestasi, tidak punya karya, tidak pintar dibandingkan orang lain.

Saya sadar. Bukankah Allah menanugerahkan kelebihan kepada makhluknya berbeda-beda? Ada yang jadi penulis, berprestasi di bidang tertentu, memiliki harta lebih, lebih pintar dalam hal tertentu, dan sebagainya. Masalah sebenarnya adalah bukan orang lain lebih pinter, lebih berprestasi atau lainnya, melainkan kita sendiri yang terlalu fokus dengan orang lain. Sibuk mengamati orang lain. Sehingga lupa mengobservasi diri sendiri. Lalai mengasesmen kemampuan diri sendiri. Tidak sempat meng-SWOT potensi diri.

Orang selalu berkata, “be your self,”. Jadilah diri sendiri. Ketika kita fokus pada kemampuan diri, maka kita akan sibuk melejitkan potensi diri. Membelajarkan diri sehingga bisa lebih baik. Ingat, diri kita punya kelebihan masing-masing yang bisa jadi tidak diberikan kepada orang lain. Ada special something dalam diri kita. Temukan dan lejitkan!

Jadikan orang lain sebagai motivasi eksternal. Motivasi tambahan, bukan motivasi utama. Bukankah bersaing dalam hal kebaikan adalah sebuah anjuran agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *