Merusak Sistem (Bagian-4)

Sistem yang dibuat adalah untuk mengatur segala hal di dalam pondok. Siapapun wajib menghormati tanpa kecuali. Anehnya, perusak sistem adalah orang-orang dekat dengan sistem, bisa dari keluarga, kolega, pengurus yang lebih tinggi, atau siapapun.

Sudah jamak jika setiap lembaga/sekolah/pondok pesantren memiliki seperangkat aturan. Aturan ini berisi segala macam peraturan, mulai tata tertib, tata cara, bahkan sanksi bagi siapa yang melanggar. Aturan memiliki fungsi agar semua sistem berjalan sesuai dengan kesepakatan yang telah tertulis. Aturan harus dipatuhi oleh seluruh orang yang ingin memasuki lembaga itu, tidak terkecuali.

Saat saya mendapat kesempatan untuk berbagi dalam acara Belajar Nulis Bareng yang diselenggarakan oleh SMP/MA Darul Madinah Kota Madiun. Kebetulan saya adalah wali santri Pondok Pesantren Putri Darul Madinah dan wali murid SMP Darul Madinah Kota Madiun. Saya mencoba (berniat) mengambil kesempatan dalam kesempitan, yaitu menemui anak saya. Mengapa? Karena selama pandemi, tidak ada waktu penjengukan sampai keadaan benar-benar aman dari pademi. Kapan? belum tahu. Nah, kesempatan ini adalah “kesempatan emas” untuk bertemu anak saya di pondok. Saya merasa yakin, Ustadz/Ustadzah akan mengizinkan bertemu anak saya, walaupun sebentar karena saya menjadi pemateri. Perasaan saya dalam hati.

Di akhir acara, saya mencoba berpikir ulang. Jika saya merealisasikan niatan saya, maka saya telah mempermalukan diri saya sendiri dan anak saya. Lebih berbahaya lagi adalah saya telah merusak sistem yang telah tertata di pondok. Urunglah niat saya untuk bertemu dengan saya.

Sistem yang dibuat adalah untuk mengatur segala hal di dalam pondok. Siapapun wajib menghormati tanpa kecuali. Anehnya, perusak sistem adalah orang-orang dekat dengan sistem, bisa dari keluarga, kolega, pengurus yang lebih tinggi, atau siapapun. Inilah yang jauh lebih berbahaya. Perusak sistem ini telah menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan pondok. Pesan saya, pahami sistemnya, patuhi, karena sistem yang baik akan menghasilkan kultur yang baik. Berhentilah jadi perusak sistem! (bersambung ke bagian-5).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *