P3G, Lentera Kecil Untuk Guru

Berawal dari sebuah kekecewaan, pelatihan PTK yang diadakan di sekolah. Seperti biasa karena pelatihan, diisi oleh narasumber dari Widyaiswara LPMP, saya lupa namanya. Narasumber ini tidak perlu diragukan kompetensinya dalam mengisi forum seperti ini. Materi PTK pun dijelaskan dengan jelas dan gamblang. Pelatihan ini berhasil Dari sisi narasumber, tetapi nihil alias nol hasilnya dari sisi peserta.

Kekecewaan kedua, saat tim dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Negeri Malang (UM) mengisi pelatihan yang sama di sekolah saya. Tidak tanggung-tanggung, tim PKM menurunkan dosen bergelar Doktor, bahkan Profesor. Sama seperti kejadian pertama, Narasumber berhasil menyampaikan materinya dengan jelas. Hasilnya, dari sisi peserta, nol lagi.

Saya merenung atas dua kejadian ini. Ada apa? yang menjadi narasumber orang-orang hebat. Mengapa keberhasilan dari sisi peserta selalu nol? Ada dua hal setidaknya. Pertama, Narasumber yang menyampaikan tidak menggunakan sudut pandang kemampuan guru dalam menyusun PTK. Buktinya, salah satu narasumber dari UM, menjelaskan penggunaan jurnal internasional dalam PTK. Apakah salah? Tidak! Tetapi terlalu berlebihan untuk membuat PTK menggunakan literatur jurnal internasional. Menurut saya sangat bagus jika PTK ada rujukan jurnal internasional, bila guru mampu. Kedua, dalam menyusun PTK, guru hanya butuh didamping secara rutin dan kontinu. Kedua narasumber tadi (dari LPMP dan UM) tentu mustahil akan mendampingi guru dalam membuat PTK karena kesibukkan yang luar biasa di lembaganya.

Dua analisis itu yang melahirkan Pusat Pengembangan Profesi Guru (P3G) di SMKN 1 Sooko Mojokerto. Saya sebagai penggagas dan ketuanya. Saya buat kurikulum beserta jumlah jam tatap muka, mulai dari identifikasi masalah sampai menjadi laporan penelitian tindakan kelas. Program itu diimplementasi di SMKN 1 Sooko Mojokerto dengan mengadakan Program Pendampingan PTK setiap hari Sabtu, jam 08.00-10.00. Hasilnya? peserta sudah memiliki proposal alias sampai Bab III. Pelatihan tidak berlanjut karena alasan berbagai hal. Saat yang sama, dengan kurikulum yang sama, saya pakai mengisi pelatihan PTK di KKG Gugus II SD di Kota Mojokerto. Hasilnya sama, hanya sampai bab III saja. Akhirnya, kegiatan P3G SMKN 1 Sooko Mojokerto dan sampai hari ini vakum.

Pak Bas, panggilan Setyo Basuki, mengajak diskusi saya untuk membuat konsep sebagai tindak lanjut dari kegiatan VCT yang telah usai. Kamipun ngobrol serius dan panjang. Akhirnya, P3G lahir kembali dan bermetamorfosis setelah lama mati suri. P3G Jawa Timur sebagai nama baru dan sudah tidak menyandang lagi SMKN 1 Sooko Mojokerto. P3G Jawa Timur belum memiliki legalitas secara hukum karena P3G Jawa Timur dibentuk sebagai wadah pemberdayaan guru. Saya mengistilahkan pelatihan model: Bertemu-Belajar-Berkarya-Bubar dan setelah Bubar, kembali ke tahap awal: Bertemu. Model ini membentuk siklus artinya siklus pelatihan tiada akhir. Semua kegiatan dalam model ini dilakukan secara daring (online) dan free. Kelas pertama yang dibuka oleh P3G Jawa Timur adalah Kelas #nulisPUISIbareng diikuti oleh 57 peserta dan ada karya sebanyak 16 buku Kumpulan Puisi ber-ISBN serta masih banyak yang akan menjadi buku. Kelas #nulisPUISIbareng bisa dikatakan sukses. Kelas kedua adalah Kelas #PTKjadiBUKU, jumlah peserta luar biasa, 250 orang. Itupun banyak yang tidak masuk grup. Ditambah lagi dua kelas lokal, Demak dan Madiun. Pelatihan ini belum dimulai satu karya sudah naik cetak. Frekuensi left group juga kecil. Setiap ada satu orang yang left, langsung yang inden lima orang. Peserta mulai dari Aceh sampai Papua Barat. Semoga P3G JawaTimur menjadi lentera kecil di tengah-tengah semangat guru yang membara dan haus akan ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *