Passion: Sebuah Perjalanan (bagian-2)

 

Sampai hari ini saya mencoba mengasah kemampuan menulis (bahasa, diksi, ejaan, dan sebagainya) dengan membeli buku-buku favorit. Bagi saya menulis hakikatnya mengikat ilmu. Menulis adalah bagian yang penting dalam belajar. Menulis adalah eksperi diri dan jati diri. Menulislah, engkau akan dikenal orang lain.

PassionĀ tidak muncul tiba-tiba seperti suatu yang jatuh dari langit. PenemuanĀ passion antara satu orang dengan lain memiliki probabilitas yang besar untuk berbeda. Bahkan proses bisa sangat lama dan berliku. Ini adalah hal yang biasa saja dan bukan hal aneh.

Saya menemukanĀ passion diawali dari sebuah pertarungan ideologi saat masih sekolah kelas 2 (sekarang disebut kelas XI). Diskusi santai di teras masjid menjadi kebiasaan saat itu adalah cara saya menimba ilmu. Dua hal utama yang saya dapatkan, yaitu sudut pandang khas (ideologi) dan cara berpikir. Kedua hal ini juga yang sampai sekarang masih mendarah daging. Sudut pandang khas mengajarkan saya untuk selalu belajar. Cara berpikir mengajarkan saya untuk selalu membaca buku dan realitas. Saya suka baca-baca buku serius tentang ideologi dan mengkliping berbagai fakta sejarah masa lalu dan catatan masa kini (saat itu).

Semakin dalam mempelajari ideologi dan cara berpikir, maka kuat keresahan terhadap realitas. Ideologi dalam diri selalu mendorong untuk disampaikan (oral maupun tulis). Sejak saat itulah, saya belajar menulis. Diklat jurnalistik saya ikuti berkali-kali. Hasilnya, saat kuliah, saya pernah menulis di majalah kampus dan majalah milik Departemen Agama Propinsi Jawa Timur.

Sampai hari ini saya mencoba mengasah kemampuan menulis (bahasa, diksi, ejaan, dan sebagainya) dengan membeli buku-buku favorit. Bagi saya menulis hakikatnya mengikat ilmu. Menulis adalah bagian yang penting dalam belajar. Menulis adalah eksperi diri dan jati diri. Menulislah, engkau akan dikenal orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *