Pintu Gerbang Digital

Tutup mata sejenak. Bayangkan, anak anda mondok di tempat yang jauh, anggap saja luar kota yang tidak boleh jenguk sama sekali selama pendemi. Tiba-tiba terdengar kabar anak anda sakit. Anda menghubungi kontak yang digunakan untuk komunikasi. Sialnya, tidak ada respon dari nomor kontak tersebut. Bagaimana perasaan anda? Ini soal pertama.

Soal kedua, bayangkan anda antar anak ke sekolah. Anda tidak boleh masuk ke llingkungan sekolah. Tujuannya simpel, agar anak anda mandiri. Ada Bapak/Ibu Pendidik yang mendampingi. Anda percaya pada Bapak/Ibu Pendidik, tetapi masih diliputi was-was. Anda tentu membayangkan bagaimana anak ini nanti kalau menangis, kalau tidak berani beli jajan ke kantin dan masih banyak lagi was-was lainnya.

Kedua soalan di atas tentu sedikit dari banyak soalan yang terkadang menghantui kita sebagai orang tua. Orang tua tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang kondisi sekolah, atau situasi pembelajaran di kelas, perlakuan pendidik terhadap peserta didik. Akibatnya timbul buruk sangka. Jangan-jangan anak saya dibegitukan, dimarahi, diintimidasi, di-bully. Apapun itu, jika sangkaan buruk ini dibiarkan maka menjadi bom waktu yang setiap saat meledak. Satu masalahnya, tidak ada jembatan penghubung antara sekolah dan orang tua peserta didik.

Jarak pisah antara lingkungan sekolah dan orang tua peserta didik adalah pintu gerbang. Orang tua peserta didik dari luar pintu gerbang memandangi gedung-gedung dan ruang kelas di lingkungan sekolah dengan segala macam persepsi. Entah itu negatif atau positif. Di sinilah peran public relation (PR) dibutuhkan sebagai pintu gerbang utama yang menghubungkan antara orang tua peserta didik dan kondisi di sekolah. PR harus mampu menggambarkan kondisi di dalam sekolah dengan baik agar prasangka orang tua menjadi berkurang.

Pandemi covid-19 telah menyisakan banyak masalah dalam kehidupan, termasuk masalah pendidikan, lebih khusus lagi pembelajaran. Pembelajaran daring yang berlaku seolah, sebagian besar orang tua peserta didik, pendidik tidak pernah mengajar. Hanya memberi tugas saja. Akibatnya orang tua repot membantu anaknya mengerjakan tugas daring anaknya. Sebagaimana video viral curhat orang tua tentang pembelajaran daring. Public Relation memiliki peran sentral dalam memberikan pemahaman kepada orang tua tentang pembelajaran daring di sekolah. PR harus memahami bagaimana memanfaatkan media-media digital penyebar informasi sekolah kepada orang tua. Ketika komunikasi dan informasi dari sekolah cepat tersampaikan maka saya yakin kedua belah pihak akan memahami apa yang terjadi sekarang. Public Relation melek media digital ini nanti akan menjadi pintu gerbang digital sekolah. Ketika orang tua peserta didik melihat gerbang sekolah seperti melihat televisi besar yang menampilkan seluruh aktivitas anaknya (peserta didik) di dalam kelas.

Omah Palem, Rabu, 11 Agustus 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *