Profil Public Relation Digital

Peran Public Relation (PR) di manapun sangat urgen. PR adalah seperti Menteri Menerangan di zaman orde baru. Tidak berlebihan pula jika dikatakan PR adalah juru bicara. Tugasnya tidak kecil, yaitu mengomunikasi dan menggambarkan apa  yang terjadi di dalam intern lembaga atau organisasi, termasuk sekolah di dalamnya. Semoga tidak berlebihan jika PR memiliki tugas 24 jam yang sewaktu-waktu diperlukan untuk menjelaskan setiap permasalahan yang terjadi di sekolah.

Fast Response

Pada suatu hari, ada orang tua anaknya yang ada di pondok sakit. Tentu orang tua menjadi panik karena yang terbayang adalah hal-hal negatif tentang anaknya. Orang tua ini menghubungi nomor pondok yang bisa dihubungi untuk komunikasi (sebut saja bagian sub humas), tetapi tidak mendapatkan respon cepat. Tidak salah jika orang tua berburuk sangka kepada pondok. “Anak saya sakit, di WA tidak dibalas. Hanya di-read saja”. Di grup WA orang tua ini menceritakan perihal itu. Satu masalah akan membawa efek domino yang sangat luar biasa, sampai pada ujung: “Saya tidak ingin anak saya melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di pondok itu karena pelayanan tidak cepat dan responsif. Saya juga tidak ingin mempromosikan pondok ini ke orang lain. Wong pelayanan seperti ini”

PR digital harus mampu memberikan respon cepat terhadap peristiwa yang terjadi. Jika tidak akibatnya fatal terhadap keberlangsungan sebuah lembaga. Sebagaimana yang kita tahu, orang tua adalah media promosi yang paling bagus dan gratis. “Eh, jeng, anaknya di pondokkan di sana saja, Ustadz/Ustadzahnya ramah-ramah, bla…bla..”. Jika perlu, kapanpun di balas, walau hanya, “iya bunda, besok akan saya sampaikan.” Saya yakin orang tua akan senang dan lega. Pak Ganjar (Gubernur Jawa Tengah) pernah mengatakan jika ada Kepala Dinas tidak merespon keluhan warga selama 1 x 24 jam di Twitter, maka siap-siap dicopot.

Komunikatif

PR adalah penyambung lidah lembaga, menjelaskan seluruh kebijakan dengan penjelasan yang mudah dipahami oleh orang yang berkepentingan dengan lembaga, misalnya sekolah. Komunikatif tidak hanya komunikasi oral saja, tetapi tulis. Mengapa? Era pandemi seperti ini, peran media sosial sangat penting sebagai media komunikasi untuk menyosialisasikan program/aktivitas lembaga. Komunikasi melalui media sosial lebih fokus menggunakan tulisan daripada oral.

Ramah

Saat saya mengisi Digital Marketing di salah satu pondok pesantren di Mojokerto, saya menyempatkan berdiskusi dengan salah satu orang yang mengundang saya. Beliau mengatakan, ada SOP (Standart Operational Procedure) yang harus dipatuhi salah satunya, senyum dan berkata dengan lembut kepada orang tua. Sederhana memang, tapi bagi sekolah swasta hal ini sangat diperlukan demi keberlangsungan sekolah. Orang tua adalah raja. Sehingga bagaimanapun keadaan hati orang yang ditugasi sebagai PR, tidak boleh dibawa ketika menghadapi orang tua. Orang tua adalah aset berharga dan sebagai media promosi. Ketika orang tua dihadapi dengan ramah, akan memberikan kesan baik tersendiri.

Melek Teknologi

Suka atau tidak, zaman memang sudah berubah. Teknologi informasi telah menjadi mercusuar dalam segala aktivitas kehidupan, termasuk pendidikan di sekolah. Seorang PR harus memiliki visi dalam penggunaan teknologi dalam kehumasan. Visi ini nanti akan diterjemah oleh tim PR dalam tataran teknis. Misalnya, tim kreatif YouTube dan kampanye media sosial menggunakan flyer/meme mendidik. Teknologi akan menjadi media yang sangat efektif dalam membantu pekerjaan PR.

Omah Palem: Rabu, 11 Agustus 2021

2 thoughts on “Profil Public Relation Digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *