Radikallah, Nak!

Jika maksud perkataan seorang anak manusia itu seperti yang saya tafsirkan, maka saya akan mengatakan kepada anak saya: Radikallah, Nak!

One upon time in somewhere, seorang anak manusia mengatakan bahwa radikalisme (paham radikal) itu disebarkan oleh yang good looking, paham bahasa Arab, dan hafiz. Saya tidak tahu maksud perkataan. Saya hanya mencoba meraba dan menafsirkan sekadarnya saja agar mudah dipahami. Tafsiran ini hanyalah sebuah tafsiran semata. Anda boleh setuju boleh tidak. Tidak setuju komen di bawah.

Saya memaknai good looking itu bisa diartikan tampilan menarik, ganteng/cantik, meyakinkan, percaya diri, mudah mempengaruhi, dan cerdas. Good looking bisa menyasar pada anak-anak muda yang menyampaikan pikiran-pikiran ideologis (yang dianggap radikal oleh anak manusia itu). Pikiran-pikiran ideologis ini sebenarnya yang ditakuti. Anak muda ideologis ini bisa direpresentasikan dalam bentuk Ustaz, pendakwah, kyai, dan siapapun.

Saya memaknai paham bahasa Arab adalah tidak hanya memahami bahasa Arab an sich. Lebih dari itu. Pikiran-pikiran Islam hanya akan dapat dipahami dengan sahih jika memiliki pemahaman bahasa Arab yang mumpuni. Semakin paham seseorang dengan bahasa Arab, maka seseorang itu akan semakin radikal. Syaratnya, bahasa Arab itu digunakan untuk memahami pikiran-pikiran dalam Islam dengan benar. Bahasa Arab sangat identik dengan Islam.

Kata hafiz tidak perlu dimaknai secara mendalam. Sudah jelas makna hafiz. Hafiz cukup dimaknai penghafal Al-Qur’an (kbbi.kemdikbud.go.id). Orang tua muslim (pasti) memiliki keinginan untuk menjadikan anaknya hafiz. Saya adalah salah satunya.

Jika maksud perkataan seorang anak manusia itu seperti yang saya tafsirkan, maka saya akan mengatakan kepada anak saya: Radikallah, Nak! Rasullullah SAW mulia pernah pernah bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, dan untuk mendengar serta taat (kepada pimpinan) meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Sesungguhnya, barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian (para sahabat), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidun orang-orang yang mendapat petunjuk- sepeninggalku. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian, jangan sekali-kali mengada-adakan perkara-perkara baru dalam agama, karena sesungguhnya setiap bidah adalah sesat“. (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

One thought on “Radikallah, Nak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *