Referensi

Bacalah berbagai referensi, maka tulisan kita akan tampak ilmiah dan menyakinkan walaupun tulisan itu bentuknya tulisan ringan. Bobot (kualitas) tulisan itulah yang menunjukkan keluasan referensi penulisnya. Kualitas tulisan menunjukkan kualitas penulis.

Makalah, skripsi, tesis, disertasi, buku merupakan bagian dari karya tulis ilmiah. Sebuah karya ilmiah memiliki ketentuan baku yang sudah ditentukan bagian-bagian secara umum maupun secara khusus sesuai dengan masing-masing lembaga (gaya selingkung). Satu hal yang wajib ada dalam setiap karya tulis ilmiah adalah referensi (rujukan). Cara penulisan referensi boleh bermacam-macam tergantung pada ketentuan lembaga masing-masing, bisa dengan footnote atau dalam bentuk daftar pustaka (rujukan).

Referensi bagi saya tidak bermakna kaku seperti ketika kita membuat skripsi, tesis, atau bahkan disertasi yang harus menggunakan jurnal internasional. Saat saya kuliah S-2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang (UM) ada ketentuan khusus dalam penggunaan referensi. Referensi sangat disarankan menggunakan jurnal internasional dengan persentase 80% dan buku 20%. Ini yang saya maksud referensi yang kaku.

Menulis (apa saja), sebenarnya sangat butuh referensi. Menulis bebas, esai ringan, atau bahkan daily activities juga membutuhkan referensi, walaupun pengutipan secara bebas dan tidak terpaku pada ketentuan khusus. Ilustrasi yang sangat mudah, misalnya ketika saya menulis tentang (Belajar) Jadi Ahli, saya menulis tentang Thomas Alfa Edison. Hakikatnya saya menggunakan referensi buku yang menceritakan tentang kehidupan sang tokoh, walaupun saya tidak menuliskan seperti referensi di tesis.

Channel Youtube: Kok Bisa? yang membahas tentang hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari memerlukan referensi valid untuk membuat narasi materi. Saat subscriber mencapai satu setegah juta, Kok Bisa? merilis sebuah teaser tentang proses pembuatan video. Satu video yang dibuat, membutuhkan referensi yang sangat banyak, bisa seminggu atau bahkan sebulan. Satu tujuannya, agar apa yang disampaikan tidak menyesatkan banyak orang.

Banyak cara dalam mengumpulkan referensi. Jurnal adalah salah satu bentuk referensi yang sangat dianjurkan untuk dirujuk daripada buku. Satu artikel yang dimuat di jurnal telah melewati serangkain review dari ahli. Teman saya pernah mengirim artikel ke jurnal Kemdikbud, proses revisi sampai dimuat membutuhkan waktu satu tahun, dengan lima kali revisi. Inilah yang membedakan artikel jurnal dengan buku. Buku belum tentu di-review oleh ahli sehingga kevalidan data yang ada dibuku sering diragukan.

Bacalah berbagai referensi, maka tulisan kita akan tampak ilmiah dan menyakinkan walaupun tulisan itu bentuknya tulisan ringan. Bobot (kualitas) tulisan itulah yang menunjukkan keluasan referensi penulisnya. Kualitas tulisan menunjukkan kualitas penulis.

re.fe.ren.si /réfêrènsi/

  1. n sumber acuan (rujukan, petunjuk): (sumber: kbbi.web.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *