Sabar Dalam Menuntut Ilmu

Berproses dan bersabar adalah kunci utama dalam menuntut imu. Bersabarlah dalam menuntut ilmu.

Pernahkah kita merenungkan? Kita telah diajari sabar dalam menuntut ilmu sejak kecil. Dulu, kita sabar menuntut ilmu di SD/MI selama 6 tahun, SMP/MTs selama 3 tahun, SMA/MA selama 3 tahun, kuliah S-1 selama 4 tahun, dan seterus sampai jenjang pendidikan tertinggi S-3. Amati timeline-nya, sungguh betapa sabarnya kita dalam menuntut ilmu. Tidak boleh, kita merangkum SD/MI, 1 tahun saja, bahkan akselerasi sekalipun tidak mengizinkan. Hari ini, anak kita bahkan kesabaran menuntut ilmu di mulai sejak bayi, baby class, play group, taman kanak-kanak. Betapa lebih sabar lagi seharusnya anak-anak kita menuntut ilmu.

Filosofi inilah yang mengilhami saya kenapa Kelas #nulisPTKbareng harus diberi grup Telegram yang dikunci alias tidak bisa posting apapun. Seperti penjara bisu yang tidak boleh berkata-kata. Saya ingin memberikan ujian pertama bagi para penuntut ilmu, yaitu ujian kesabaran. Penuntut ilmu yang tidak sabar hanya akan menghasilkan kesia-siaan saja.

Setiap hari sabtu, saya ngaji kitab Shohih Bukhori, Bughyatul Mustarsyiidin, dan Syarah Hikam. Betapa sangat sabarnya, ketika setiap sabtu hanya beberapa hadits dibaca dan diberi syarah, Kitab Bukhori yang saya miliki ada 4 jilid (arab tanpa terjemahan), lha selesainya kapan? Bapak saya pernah cerita, beliau ngaji kitab Ihya Ulumuddin, selama 20 tahun baru khatam. Hasilnya, pemahaman terhadap kitab tersebut luar biasa. Buah kesabaran dalam menuntut ilmu.

Bukankah mie instan saja butuh diseduh atau direbus dulu sebelum dimakan? Apalagi calon-calon penulis hebat, baru ikut satu grup menulis saja pengen mahir menulis seperti Tere Liye, Cak Nun, Prie GS, dan penulis yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Berproses dan bersabar adalah kunci utama dalam menuntut imu. Bersabarlah dalam menuntut ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *