Siapa yang (Mau) Baca Tulisanmu?

Dulu, pertama kali intens menulis di media sosial Facebook, selalu ada pertanyaan menghantui, “Siapa yang (mau) baca tulisanmu?” Sebagai penulis yang baru saja belajar adalah hal wajar menurut saya. (Mungkin) teman-teman juga mengalami hal serupa. Dalam hati saya bergumam sendiri, “Saya bukan orang terkenal. Emang ada orang yang baca tulisan saya?” Saya tidak apakah pertanyaan itu juga mewakili hati teman-teman juga?

Pada suatu titik tertentu, saya mulai merenung. Rasa khawatir seperti itu bisa saja muncul tanpa alasan. Kadang melemahkan semangat diri untuk (belajar) menulis. Akhirnya, saya memutuskan untuk berlanjut belajar menulis, menulis, dan menulis lagi. Sembari diiringi belajar tata bahasa, diksi, KBBI, PUEBI, dan apapun yang berhubungan dengan seluk beluk penulisan. Tidak terasa, seratus lebih tulisan telah ter-publish di laman http://kelaskuonline.id. Bermutu? Menurut saya relatif sih tergantung siapa yang menilai. Bukankah hal wajar jika tulisan saya jelek? Kan baru belajar.

Siapa yang (mau) baca tulisanmu? Saya mencoba mengacuhkan pertanyaan ini. Karena ini bukan satu-satunya alasan saya menulis. Saya memiliki beberapa alasan mengapa saya terus menulis?

Pertama, sebagai tabungan. Laman http://kelaskuonline.id saya buat dengan tujuan untuk mengumpulkan tulisan-tulisan agar bisa jadi buku. Setiap ide muncul, saya tulisan di laman itu. Sehingga tidak terasa sudah terkumpul banyak dengan berbagai bahasan.

Kedua, sebagai identitas diri. Bukan hanya blog (laman pribadi) sebagai identitas, tulisan juga bisa dijadikan identitas diri. Jika saya diberi kesempatan, saya selalu mengatakan bahwa tulisan saya dapat dinikmati di http://kelaskuonline.idMasa’ mengisi seminar/pelatihan/workshop penulisan, tetapi tidak pernah menulis. Kan aneh jadinya.

Ketiga, sebagai portofolio. Portofolio artinya adalah kumpulan catatan proses belajar. Saya bisa menilai tulisan-tulisan saya mulai dari awal sampai akhir. Apakah semakin bagus atau malah tambah jelek? Baik dari sisi bahasa, diksi, PUEBI, dan sebagainya. Bisa kita jadikan self assessment perjalanan menulis.

Keempat, sebagai investasi kebaikan. Sebagai seorang muslim, kebaikan sekecil apapun akan dicatat sebagai kebaikan. Barangkali salat kita tidak terlalu khusyuk, puasa kita ada unsur pamer, dan segala macam amalan ibadah lainnya. Nah, tulisan sederhana kita bisa menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan, bisa jadi menjadi timbangan amal yang paling berat di sisi Allah. Bukankah kebaikan sebesar atom juga akan mendapatkan balasan?

Setidaknya keempat alasan itu yang menjadi saya tetap optimis untuk selalu belajar menulis. Menulis sesuai dengan apa yang saya sukai. Saya tidak terlalu memperdulikan berapa banyak orang yang baca. Jauh lebih penting adalah seberapa bermanfaat tulisan kita bagi orang lain. Lanjutkan saja menulis! Gitu aja kok repot, begitulah kata Gus Dur!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *