Surat Cinta Santri Darul Madinah

Empat puluh hari kedua ini, anak saya mengirim surat cinta berisi tentang menanyakan kabar saya dan Umminya Niswah, memberikan kabar bahwa dia sehat dan yang paling menggembirakan adalah jalan terjal untuk meraih mahkota yang kelak akan dipakai kepada orang tua, yaitu hafalan yang sudah dicapai.

Pondok Darul Madinah Kota Madiun punya kebiasaan dan sistem terjaga yang harus dipatuhi oleh siapapun, bahkan oleh anak pengurus Hidayatullah dari luar kota sekalipun. Saya pernah mencoba memberi gangguan terhadap sistem, ternyata tidak bisa juga. Saat itu, bibi dari istri saya meninggal. Nah, saya coba menghubungi pengasuhnya untuk mengizinkan anak saya keluar pondok untuk saya ajak takziyah. Ustadzah pengasuh tetap berpegang pada SOP (Standar Operasional Prosedur) yang sudah ditetapkan, gagal gangguan pertama. Gangguam kedua, saat penjengukan yang bebarengan dengan usbu’iyah (ingin tahu apa itu usbu’iyah, pondokkan anak anda ke Darul Madinah), santri harus/wajib mengikuti usbu’iyah terlebih dahulu dan orang tua harus menunggu sampai usbu’iyah selesai. Itulah yang membuat saya yakin 100% terhadap Pondok Pesantren Putri Darul Madinah Kota Madiun sangat menjaga kesidiplinan.

Masuk pertama jadi santri baru, 40 hari tidak boleh ditelpon dan dijenguk. Setelah libur semester juga berlaku sama. Berbekal keyakinan bahwa SOP yang ada di Darul Madinah sudah teruji dan mapan, saya yakin Pengasuh dan Ustadzah pasti sudah punya trik atau cara memotivasi santri agar santri mampu menyesuaikan diri. Di tambah lagi, ukhti pendamping selalu menceritakan dan memotivasi bahwa ukhti juga memiliki rasa yang sama ketika masih baru mondok. Di sinilah orang tua santri harus super sabar dalam menanti kabar dari anaknya yang mondok.

Rindu itu akan sedikit terobati, bila Ustadzah mengirimkan foto dan video via Whatsapp grup orang tua santri. Terasa plong melihat kondisi anak yang mondok. Di samping, santri juga diberi satu kesempatan kirim surat yang akan difotokan Ustadzah dan dikirim ke Whatsapp orang tua. Pesan berisi berbagai macam, seperti minta doa, memberi kabar, dan pesan makanan/paket serta kebutuhan sehari.

Empat puluh hari kedua ini, anak saya mengirim surat cinta berisi tentang menanyakan kabar saya dan Umminya Niswah, memberikan kabar bahwa dia sehat dan yang paling menggembirakan adalah jalan terjal untuk meraih mahkota yang kelak akan dipakai kepada orang tua, yaitu hafalan yang sudah dicapai. Dia sudah hafal 1/2 juz dari juz 1. Berita terakhir ini jauh lebih menggembirakan dari apapun. Anak saya juga menulis jika ingin khatam 1 juz dari juz 1 dalam 40 hari ke depan karena ada tes juziyah juz 1.

Nak, kami berdua sehat wal afiat dan selalu dalam lindungan Allah. Tanpa kau minta doa, setiap hari, setiap akhir shalat, kami selalu mengangkat tangan mendoakanmu agar engkau dimudahkan menuntut ilmu, dimudahkan dalam mempelajari Al Quran, dimudahkan dalam menghafal Al Quran, dan dimudahkan segala urusan di pondok. Semoga kelak engkau akan memberi syafaat kepada kami karena engkau hafal Al Quran. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *