Tolak Tugas #5

Guru lebih suka tidak mendapatkan tugas tambahan. Teman-teman guru memandang tugas tambahan sebagai beban, bukan tantangan.

Pernahkah di kelas bertanya kepada anak-anak (baca: siswa), “Siapa yang ingin jadi perangkat kelas?” Saya yakin 99% pasti anak-anak tidak yang mau. Mengapa? Karena mereka memandang bahwa ketika mereka menjadi perangkat kelas, maka mereka mendapatkan beban tugas. Di kala teman-temannya bebas tugas, perangkat kelas harus mengurusi kelas, membuat piket, mengkoordinir tugas dari guru atau wali kelas, dan berbagai tugas lainnya. Mereka tidak sadar jika menjadi perangkat kelas, akan belajar sesuatu yang tidak pernah didapat di bangku kelas. Mereka hanya memandang sebagai beban tugas.

Siswa tidak jauh beda dengan guru. Misalnya kepala sekolah, memberikan kesempatan kepada guru untuk mendapatkan tugas tambahan di sekolah. Saya (masih) yakin mayoritas guru akan menolak atau tidak mau tambahan tugas yang diberikan sekolah. Logikanya sama dengan logika yang dipakai siswa. Guru lebih suka tidak mendapatkan tugas tambahan. Teman-teman guru memandang tugas tambahan sebagai beban, bukan tantangan.

Saya ingin menggunakan analisis yang (agak) mendalam perihal tolak tugas. Alasan tugas tambahan sebagai beban tidak salah karena sistem di sekolah itu belum atau tidak berjalan. Sekolah yang memiliki sertifikat ISO 9001: 2015 belum menjamin bahwa sistem sekolah berjalan dengan baik. Saya (masih) yakin jika sistem sekolah berjalan dengan baik, teman-teman guru ada kemungkinan kecil untuk menolak tugas.

Tunjangan yang kecil juga bisa jadi alasan untuk menolak tugas tambahan. Mengapa orang-orang di perusahaan lebih berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi? Salah satu alasannya adalah ada tunjangan yang besar ketika mendapatkan jabatan tertentu.

Pernahkan teman-teman merasakan terpaksa menerima tugas tambahan di sekolah? Bila pernah, bisa tulis komentar di bawah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *