Tulisanmu, Urusanmu

Momentum #PTKjadiBuku adalah momentum yang tepat untuk mengasah kepedulian terhadap tulisan yang kita hasilkan, Tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Walaupun saya selalu tidak bosan mengirim ulang draft buku untuk dicek.

Saya pernah mengulas dalam sebuah tulisan tentang buku adalah monumen bagi penulis. Saya coba meriviu sedikit di sini. Saya jelaskan bahwa saya selalu mengirim balik buku yang sudah saya layout dan edit ke penulis. Tidak peduli berapa kali harus bolak-balik sampai penulis menyatakan fix naskah bukunya. Ketika penulis menyatakan final, maka itulah tanda bahwa naskah sudah sempurna. Mengapa saya melakukan demikian? Karena buku bagi penulis adalah monumen. Monumen yang selalu dipandangi setiap hari. Sedikit saja cacat di buku itu, maka penulis akan selalu memandangi monumen yang catat. Betapa sedihnya sang penulis. Itulah mengapa dalam hal ini saya selalu perfect.

Saya bisa saja bilang dalam hati, “Tulisanmu bukan urusan saya. Tulisanmu adalah urusanmu”. Itu bukan tipe saya. Saya berusaha memberikan yang terbaik dalam hal buku. Buku bukanlah bermakna hanya kumpulan tulisan yang setelah dicetak, selesai urusan. Lebih dari itu, penulis akan bangga karena karya yang ditulisnya adalah sesuatu yang sempurna (saat itu). Walaupun di lain hari, ketemu cacatnya. Tidak ada masalah karena di karya berikutnya, penulis bisa memperbaiki kembali.

Momentum #PTKjadiBuku adalah momentum yang tepat untuk mengasah kepedulian terhadap tulisan yang kita hasilkan, Tanpa ada rasa bosan sedikitpun. Walaupun saya selalu tidak bosan mengirim ulang draft buku untuk dicek. Teman-teman peserta #PTKjadiBUKU, jangan pernah berhenti belajar menulis buku. Belajar adalah sesuatu yang harus dinikmati. Berproses adalah suatu keniscayaan dalam belajar. Semoga teman-teman peserta #PTKjadiBUKU menjadikan ini sebagai titik awal berkarya. Menulislah, niscaya engkau akan abadi.

18 thoughts on “Tulisanmu, Urusanmu

  1. Kenangan terindah untuk anak cucu kita kelak bila kita sudah tak ada lagi di dunia ini. Lewat pikiran yang kita tuliskan, mereka akan mengenali nenek moyangnya..

  2. Alhamdulillah,
    Terima kasih untuk selalu ikut menjaga kesempurnaan sebuah karya walau hakikatnya sempurna itu hanya milik Allah.
    Kita senantiasa sedang berjalan menuju kesempurnaan itu. Sebatas kemampuan.

  3. Subhanallah.
    Barokallahu laka cak.
    Alhamdulillah wasyukrulillah.
    Dan terimakasih tuk ilmunya cak.

  4. Alhamdulillah ini pengalaman kali pertama buat saya yang sangat berharga..
    Terima kasih buat bimbingan dan ilmunya Cak Lukman

  5. Guru penggerak yang hebat. Masih muda namun bs menggeret yg sdh manula… shg betul2 tergerak tuk menulis. Semoga kesehatan dan keberkahan senantiasa berlimpah tuk cak Lukman sekeluarga.

  6. waduh..ini bener2 editor yang sangat peduli dengan penulis..Alhmdulillah dipertemukan dengan editor tidak hanya mumpuni tapi juga berperasaan..maksih cak Lukman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *