VCT, Langkah Awal Inspirasi

Saya termasuk kontributor di dalam buku itu. Judul tulisan saya adalah Kecewa tapi …. Saya menulis bahwa VCT tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Harapan saya dapat ilmu dari narasumber ahli, tetapi ternyata tidak. Di balik kekecewaan itu, ada inspirasi yang luar biasa dari kegiatan ini.

Entahlah, VCT Batch berapa waktu itu ketika saya daftar, hanya tak acuh dan tak peduli. Seperti biasanya, setiap yang daftar VCT dimasukkan ke grup pesan instan Whatsapp. Tidak lama, hanya sebentar, saya pun left alias keluar grup. Tidak tertarik waktu. Setelah beberapa lama, VCT Batch 5 dibuka, iseng-iseng daftar dan dimasukkan grup pesan instan Whatsapp. Niat hati mengikuti dengan serius, akhirnya terlalu serius sampai salah paham terhadap tugas-tugas yang dibebankan sebagai syarat kelulusan.

Dalam bayangan saya, ada beberapa narasumber yang menyampaikan materi melalui aplikasi video conference WebEx dalam sebuah tema besar, seperti pembelajaran menyenangkan aktif dan kreatif. Ternyata saya salah! Konsepnya VCT adalah lebih pada penggunaan tools virtual training daripada isi materi. Dengan kata lain, peserta mahir menggunakan alat untuk melakukan video conference jarak jauh secara daring (online), menggunakan WebEx. Disamping itu, peserta dilatih untuk mahir menggunakan aplikasi rekam, aplikasi presentasi, aplikasi daftar hadir secara daring. Peserta diberi kebebasan untuk menyampaikan materi apapun, mulai dari pembelajaran sampai cara memasak ayam geprek. Secara substansi materi memang tidak menarik, tapi di sisi lain, peserta (pendidik) diajarkan menggunakan aplikasi yang dibutuhkan untuk seminar jarak jauh. Peserta dibebani menjadi presenter, moderator, host, dan sebagai peserta juga beberapa kali. Itu sebagai syarat kelulusan.

Salah satu instruktur VCT, Setyo Basuki, memiliki ide membuat buku cerita dari peserta tentang pengalaman mengikuti VCT dalam naungan Buku Antologi. Saya sebagai salah peserta yang memiliki penerbit, menyambut baik ide itu karena saya bisa berkontribusi dalam penerbitan buku antologi. Alhasil.semua cerita akhirnya terkumpul, tidak main-main, tebalnya lebih dari 200 halaman. Judulnya bukunya pun penuh makna. Metamorfosa 104.5 artinya perubahan wujud dari ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang indah yang dikagumi oleh banyak orang. VCT 104.5 diharapkan menjadi perubahan wujud pendidik (peserta VCT) dari gagap teknologi menjadi mahir teknologi. Itulah filosofi judul buku antologi ini.

Saya termasuk kontributor di dalam buku itu. Judul tulisan saya adalah Kecewa tapi …. Saya menulis bahwa VCT tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Harapan saya dapat ilmu dari narasumber ahli, tetapi ternyata tidak. Di balik kekecewaan itu, ada inspirasi yang luar biasa dari kegiatan ini. Inspirasi itu adalah bahwa pendidik punya keinginan untuk maju. Maju menggunakan teknologi atau aplikasi kekinian dalam meng-upgrade pengetahuan mereka (baca: pendidik). VCT memberikan ruang kebebasan bahwa belajar bisa di mana saja dan kapan saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah gratis alias tidak bayar.

Setelah semua berakhir, beberapa instruktur memiliki ide untuk membuat kelanjutan dari VCT ini. Nama Pusat Pengembangan Profesi Guru (P3G) Jawa Timur lahir dari ibu kandung VCT batch 5 104.5. Dengan motto: dari GURU oleh GURU untuk GURU. Siap meramaikan jagat maya pengembangan guru dengan GRATIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *