Waka Prestasi #4

Wakil kepala sekolah (waka) bidang prestasi memang aneh dan terkesan ilegal.

Sekolah tanpa prestasi, hem! Terserah teman-teman menyebutnya apa, tetapi aneh memang! Apalagi sekolah-sekolah besar yang memiliki sumberdaya (manusia maupun sarana dan prasarana) lengkap. Dilematis memang. Itulah kenyataan di lapangan. Terkadang sekolah negeri kalah dengan sekolah swasta yang sudah mapan.

Wakil kepala sekolah (waka) bidang prestasi memang aneh dan terkesan ilegal. Bukankah waka di sekolah-sekolah hanya empat: kurikulum, kesiswaan, sarana dan prasarana, dan kehumasan? Jika waka prestasi dianggap ilegal, maka bisa dimasukkan ke gugus tugas lain. Asal waka prestasi ada. Mengapa?

Alasan pertama, prestasi membutuhkan program yang sistematis dan terencana. Banyak sekolah yang hanya reaktif terhadap even lomba. Program yang terencana akan menghasilkan kader-kader siswa berprestasi. Perencanaan yang matang saja belum tentu menghasilkan prestasi yang maksimal, apalagi tidak terencana. Penunjukan sesaat untuk menggugurkan kewajiban menjadi peserta.

Alasan kedua, prestasi itu proses, bukan instan. Proses berarti pembinaan berkelanjutan dan terprogram oleh ahlinya. Bahkan bila perlu, magang atau belajar dari praktisi untuk SMK. Bahkan, penunjukkan siswa yang berpotensi dimulai dari kelas paling bawah, misalnya kelas X untuk SMA/SMK. Persiapan memang bersifat jangka panjang. Bisa jadi bibit di kelas X, baru bisa berprestasi satu tahun kemudian. Karena prestasi adalah investasi jangka panjang.

Alasan ketiga, prestasi adalah prestige. Tidak bisa dipungkiri, ajang-ajang lomba dimanfaat oleh sekolah untuk mengangkat nilai sekolah. Tak jarang, orang tua memilih sekolah karena (salah satunya) banyaknya prestasi yang pernah diraih sekolah. Semakin banyak prestasi, maka sekolah bisa mengurangi biaya promosi sekolah. Biarkan prestasi yang berbicara.

Mojokerto, 13 Nopember 2020, 08:18.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *